Tips Jitu | Cara Mendidik Anak Keras Kepala, Manja dan Suka Bohong Agar Lebih Disiplin

Table of Contents

Cara Mendidik Anak Keras Kepala, Manja dan Suka Bohong Agar Lebih Disiplin

ARDINTORO |dot| COM - Hello ayah bunda, bagaimana kabarnya? Semoga baik ya, pembahasan kali ini masih seputar parenting. Mendidik anak adalah sebuah kewajiban, khususnya bagi mereka yang sudah berumah tangga. Mendidik anak bukan hal yang mudah, karena itu perlu adanya latihan-latihan khusus agar sebuah pasangan memperoleh generasi penerus yang berkualitas, oleh sebab itu perlu adanya komitmen yang tinggi dari kedua belah pihak, baik dari suami maupun istri untuk siap menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya kelak.

"Jangan cuma pinter bikin anak took!, tapi nggak mampu ngurus dan mendidik. Anak adalah amanah dari Allah, baik buruknya akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di Yaumul Qiyamah".

Karena hal tersebut maka, biasanya ada beberapa kendala yang sering di alami dalam mendidik anak misalnya, pembawaan sifat lahir anak yang unik, pengaruh lingkungan yang kurang baik dan terbatasnya pengetahuan orang tua dalam mendidik anak dll. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua yang merupakan madrasah pertama bagi anak hendaknya terus belajar, karena kehidupan anak jaman sekarang sangat berbeda jauh dengan kehidupan kita orang tua waktu kecil, makanya perlu terus meng-update keilmuan agar tetap relevan dalam mendidik anak.

Menghadapi Anak yang Keras Hati dan Keras Kepala

Cara Mendidik Anak Keras Kepala, Manja dan Suka Bohong Agar Lebih Disiplin

Sebagai orang tua pada saat tertentu pasti akan mendapati anak kita berprilaku bandel dan susah di atur. Prilaku ini bisa juga di sebut dengan keras hati. Sifat ini sering kali sangat menyulitkan para orang tua, anak yang keras hati biasanya berbuat sesuatu menurut nafsu dan kemauannya sendiri dan nggak menghiraukan orang lain, prilaku ini bisa berakibat negatif bila nggak segera di atasi.

Ibarat buah pinang di belah dua. Anak yang memiliki sifat keras hati juga nggak beda jauh sifatnya dengan anak yang keras kepala. Anak keras kepala biasanya juga susah di atur, bila di suruh mengerjakan sesuatu dia nggak mau dengan berbagai alasan nggak jelas, yang cenderung bersifat pasif yaitu selalu menolak kemauan orang lain.

Dari kedua sifat itu bisa di simpulkan. Anak yang memiliki sifat keras hati biasanya dia cenderung selalu membantah terhadap seruan orang lain karena ia memiliki tujuan sendiri yang berlainan dengan orang lain. Sedangkan sifat keras kepala juga biasanya selalu membantah bila di suruh tetapi tanpa memiliki alasan dan tujuan yang jelas.

Lantas sebagai orang tua apa yang harus di lakukan bila kita memiliki anak yang memiliki sifat keras hati dan keras kepala? Tenang ayah bunda semua masalah ada solusinya hehe. Ada beberapa strategi dalam mengatasi anak yang memiliki sifat keras hati dan keras kepala. Pertama buatlah jadwal sederhana kegiatan anak dan lakukan secara konsisten. Dengan hal itu bisa melatih anak untuk hidup teratur, tertip dan bertanggung jawab.

Kedua, bila orang tua memberikan perintah dan larangan hendaknya di berikan dengan lemah lembut yang dapat membesarkan hati mereka dan jangan sekali-kali memerintah maupun melarang dengan cara keras dan kasar agar anak merasa di hargai.

Ketiga, jangan memanjakan anak secara berlebihan, anak yang di manja biasanya selalu di turuti semua kemauannya agar anak terbantu dan merasa senang. Sebagai orang tua hendaknya nggak melakukan hal itu karena menyebabkan anak nggak bisa mandiri dan terus bergantung pada bantuan orang lain. Sebagai orang tua harus bertindak tegas yang terukur. Dengan hal itu anak akan lebih konsekuen dan bertanggung jawab atas apa yang di bebankan kepadanya.

Keempat, orang tua harus senantiasa sabar, tenang dan tegas dalam menghadapi anak yang memiliki sifat keras hati dan keras kepala. Karena anak yang memiliki sifat itu, biasanya juga karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua.

Menghadapi Anak yang Manja

Cara Mendidik Anak Keras Kepala, Manja dan Suka Bohong Agar Lebih Disiplin

Memanjakan anak sebetulnya hal yang wajar di lakukan setiap orang tua, karena itu merupakan tanda kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, tapi bila di lakukan secara berlebihan maka akan berdampak buruk untuk tumbuh kembang si anak. Dengan memanjakan anak secara berlebihan membuat mereka nggak bisa mandiri, kurang percaya diri, cengeng, penakut, nggak punya rasa tanggung jawab dan selalu bergantung kepada orang lain.

Ada beberapa hal yang biasanya menjadi alasan orang tua selalu memanjakan anak-anaknya, di antaranya: Orang tua memiliki ketakutan yang berlebihan akan bahaya yang mungkin mengancam si anak, dengan hal itu orang tua akan selalu berusaha melindungi anaknya dari bahaya dengan selalu melarang si anak, misalnya untuk lari-larian, bermain di panas matahari, bermain dengan temannya dll. Padahal kegiatan-kegiatan itu nggak semuanya buruk atau negatif justru malah baik merurut saya karena si anak bisa bersosialisasi dengan teman sebaya.

Selain itu, keinginan yang nggak di sadari dari bayak orang tua yang selalu menolong dan memudahkan kehidupan si anak. Mereka berfikir bahwa, semua pekerjaan yang di lakukan orang tua itu semata-mata untuk kepentingan si anak. Akibatnya, orang tua memberikan pertolongan dan memanjakan si anak secara berlebih-lebihan.

Lantas bagaimana mengatasi anak yang terlanjur manja? Ada beberapa cara dalam mengatasi anak yang manja, di antaranya: Pertama, tumbuhkan rasa percaya dirinya dengan membiarkan si anak melakukan segala hal sendiri, orang tua cukup mengawasi saja dan bila si anak amat sangat memerlukan bantuan baru orang tua datang membatu.

Kedua, besarkan hatinya dengan menghargai semua pekerjaan si anak bila di kerjakan sendiri, kalau perlu dengan pujian agar mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Selain itu dorong si anak agar memiliki jiwa sosial misalnya dengan mengajak mereka berbagi ke orang yang membutuhkan.

Mengatasi Anak yang Suka Berbohong

Cara Mendidik Anak Keras Kepala, Manja dan Suka Bohong Agar Lebih Disiplin

Berbohong merupakan salah satu perbuatan yang sering di lakukan baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Berbohong termasuk perbuatan yang tercela, bila perbuatan ini di lakukan secara terus-menerus maka dapat merugikan pelakunya selain itu juga dapat merugikan orang lain.

Kita semua sepakat, anak yang baru di lahirkan itu hakikatnya bersih seperti halnya kertas putih yang belum ada coretan-coretan. Muncul sebuah pertanyaan, lantas bagaimna bila ada anak yang masih kecil tapi suka berbohong? Bila di sekitar kita ada anak yang suka bohong biasanya itu nggak serta-merta terjadi begitu saja, pasti ada pengaruh dari luar misalnya dari keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Dalam perkembangannya, anak yang berumur 3 sampai 4 tahun biasanya selalu berkata jujur, apa yang di lihat dan di dengar biasanya  di sampaikan dengan sesunghuhnya, namun karena pengaruh lingkungan dan salah dalam mendidik biasanya banyak anak  yang suka berbohong.

Maka dari itulah, dalam mendidik anak di perlukan orang tua maupun guru yang mumpuni yang mampu menularkan sifat jujur dan menjauhi sifat atau perbuatan bohong, dengan cara memberikan tauladan dan contoh yang baik kepada anak didiknya.

Sebagai orang tua maupun guru dalam menghadapi anak yang suka bohong sebaiknya nggak boleh bersikap keras misalnya, memarahi, memaki-maki maupun menghukum anak. Anak berbuat dusta biasanya di lakukan dengan nggak sadar, karena dia belum tau  bahwa kata-kata yang di ucapkan itu bohong dan nggak sesuai dengan yang sebenarnya, makanya anak yang berbohong biasanya nggak merasa bersalah.

Maka dari itu, nggak adil rasanya bila kesalahan anak (berbohong) di ganjar dengan hukuman. Satu-satunya yang dapat di perbuat orang tua maupun pendidik adalah menasehati si anak bahwa berkata-kata bohong itu perbuatan tercela dan bertentangan dengan norma agama maupun norma kepatutan di masyarakat dan meminta si anak agar nggak mengulagi lagi berkata-kata bohong.

Pendidik (terutama orang tua) nggak boleh mengatakan “Aaaah... Kamu bohong! Saya nggak percaya kamu!” kepada anak yang sedang berbohong.  Sebab dengan kata-kata tersebut anak akan menjadi nggak percaya pada pendidiknya (orang tua) sehingga dalam jiwa anak akan tertanam suatu pendapat misalnya “Biarpun saya berkata jujur, ayah atau ibu pasti mengatakan saya bohong, jadi lebih baik saya berkata lain”.

Dengan hal itu, bukan kejujuran anak yang kita dapatkan melainkan sebaliknya. Anak nggak mau mengatakan yang sebenarnya karena takut di hardik dan marahi ayah atau ibu-nya. Jadi, sebagai orang tua dalam mendidik sebaiknya dengan lemah lembut dan bila anak berbuat hal-hal yang baik orang tua bisa mengapresiasi mereka misalnya dengan memberikan hadiah agar si anak semakin semangat berbuat baik.

Referensi dan Sumber Gambar
  • Bisri Mustofa Djaelani. 2010. Mendidik Generasi Berkualitas. Yogyakarta: Trans Mandiri Abadi.
  • https://womantalk.com/
  • https://review.bukalapak.com/
  • https://hellosehat.com/
  • https://manado.tribunnews.com/

15 comments

Jika ada yang Ingin Anda Tanyakan Terkait Artikel di atas Silahkan Bertanya Melalui Kolom Komentar Berikut ini, dengan Ketentuan :

1. Berkomentarlah dengan Sopan (No Spam, Sara dan Rasis).
2. Komentar di Moderasi. Bila berkomentar nggak sesuai dengan kebijakan Blogger maka nggak di terbitkan!
3. Centang kotak Notify Me / Beri Tahu Saya untuk mendapatkan notifikasi komentar.
4. Happy Blogging 🙂.
Comment Author Avatar
17 June 2021 at 17:04 Delete
Yg ngajarin anak supaya ga berbohong, itu aku lakuin juga mas. Pernah ada yg bilang, anak2 sedari kecil, kalo ga mau mereka berbohong, ya ortunya juga jangan begitu. Cth kecil aja, kalo si ortu janjiin mau kasih hadiah misalnya, tp di hari H, malah ga jadi dengan alasan lain.. buatku itu sama juga boongin anak. Dan mereka bisa belajar dr situ

Makanya sebisa mungkin aku selalu nepatin kalo berjanji ke anak2. Seandainya ada alasan sampe janji itu ga bisa ditepatin, aku bakal jujur ksh tahu alasannya apa, dan kapan akan aku ganti.

Anak2 juga ga bakal aku maki kalo sampe ngomong yg ga bener. Hrs pelan2 sih memang. Dan jgn sampe ya, kita ga percaya juga ke anak. Misalnya anak bilang dia udah solat, tapi ortunya ga percaya, dan malah bilang, 'boong kamu. Sana solat lagi'. Itu menurutku malah bikin anak down sih, ngerasa ga dipercaya. Aku menghindari banget ngucapin kata2 yg berkesan ga percaya Ama mereka.

Susah ya mas, utk melatih anak gini. Sampe skr pun aku msh aja kuatir kalo aku gagal mendidik anak2 ..
Comment Author Avatar
17 June 2021 at 18:05 Delete
Na itu lah Mbak bener, anak² memang masih super polos, ibarat kertas putih. Jadi perilaku mereka yg kita lihat sekarang bisa jadi karena ajaran kita sebagai orang tua di keseharian baik di sengaja maupun nggak.

Makanya dalam mendidik lebih baik langsung memberikan contoh, karena seorang anak masih bersifat "ngikut", jadi apapun yg orang dewasa lakukan anak pasti mencontohnya.

Jadi harap berhati² berprilaku di depan anak, kalau memang terpaksa kebetulan kita orang tua melakukan hal negatif usahakan jangan sampai anak² kita tau, agar aura negatif nggak terserap ke anak.
Comment Author Avatar
18 June 2021 at 02:58 Delete
wah berat ya , sifat yang harus diperbaiki banyak banget. makanya sebelum kejadian dicegah dengan selalu mengajarkan kaarkter baik dan menjadi teladan
Comment Author Avatar
19 June 2021 at 09:02 Delete
Sip bener Ibu Tira, Penanaman Karakter harus di ajarkan sejak kecil
Comment Author Avatar
22 June 2021 at 09:30 Delete
Bener banget, anak adalah amanah terbesar dan terlama sepanjang hidupku semoga Allah memudahkan aku mendidik anak agar anak menjadi sholeh dan hanya takut pada Allah. Memang harus sabar dan pelan-pelan ya mas huhu
Comment Author Avatar
24 June 2021 at 18:31 Delete
Amin Mbak, Semangat semoga Allah mengabulkannya.
Comment Author Avatar
25 June 2021 at 10:50 Delete
PR banget untuk orang tua ya mas agar anak bisa lebih kalem dan tidak keras kepala. Saya akuui saya termasuk anak yang keras kepala namun seiring bertambahnya usia berusaha tidak keras kepala
Comment Author Avatar
26 June 2021 at 14:16 Delete
makasih banget tipsnya, mas. pas banget nih aku punya 2 anak balita dengan tantangannya masing-masing. perlu banyak banget ilmu saat menghadapi kelakuan anak yang kadang suka bikin puyeng. he
Comment Author Avatar
26 June 2021 at 15:06 Delete
Menjadi orang tua memang tidak mudah. Mesti ekstra sabar menghadapi anak dengan berbagai karakter. Apalagi anak tuh peniru yang ulung. Kita orang tua model pertama yang dilihat dan ditiru oleh seorang anak. Terima kasih atas sharingnya Mas. Sangat bermanfaat.
Comment Author Avatar
27 June 2021 at 09:08 Delete
Wah makasih artikelnya ya Mas, jd ada masukan buat menghadapi anak yg kadang2 mau juga keras kepala dan membantah omongan ortu. Salah satu caranya dg menyampaikan kata2 yg lembut ya ke mereka dan harus sabar agar segala nasehat bs dimengerti anaknya dg baik
Comment Author Avatar
27 June 2021 at 11:38 Delete
mendidik anak memang bukan perkara mudah, sebagai orangtua kitaa butuh ekstra sabar, mendidik ini juga butuh kerjasama dari kedua orangtua, bukan cuma tugas Ibu saja tapi Ayah pun juga harus turut serta karena kalau salah satunya keras atau sebaliknya, disinilah biasanya celah juga bagi anak jadi manja, keras kepala bahkan berani berbohong, huhuhh. Anyway makasih sharing dan pengingatnya Mas. :)
Comment Author Avatar
27 June 2021 at 20:32 Delete
Setiap orang tua memang punya pola pendidikan yang beda, tapi pada dasarnya semua ingin anaknya tumbuh jadi jiwa yang unggul, jujur, juga berbudi pekerti baik. Namun, untuk membentuk anak dengan kepribadian tersebut orang tua membutuhkan perjuangan, apalagi anak selalu menjadikan orang tua sebagai role model.
Comment Author Avatar
27 June 2021 at 20:36 Delete
Tipsnya sangat bermanfaat, pelajaran banget nih dalam mengasuh anak, suatu saat bisa saya praktekin kalo udah nikah dan udah punya anak
Comment Author Avatar
28 June 2021 at 19:58 Delete
Anak-anak memang cerminan orang tuanya itu benar adanya. Anak pasti akan belajar dari orang terdekatnya terlebih dahulu, sebelum ke luar rumah. Oleh karena itu, siap jadi orang tua artinya siap berubah /belajar lebih baik. Karena ada anak yang "menonton" setiap gerak gerik kita. Dan, jika ingin anak lebih baik dari kita ya orang tua harus belajar banyak hal dulu, jika memang belum menguasai. Dan Mashaa Allah, orang tua bisa "membentuk" anak mau dijadikan apa.
Comment Author Avatar
19 July 2021 at 09:35 Delete
Keren sekali artikelnya bang. Walau belum menikah dan punya anak tapi ini bisa jadi bekal buat saya nanti.