Kabut Hitam

Puisi berjudul Kabut Hitam
Di kala fajar menyingsing.
Mentari yang biasa cerah itu? ...
Yang biasa cerah itu?.
Me-mudar, ya Dia memudar!
Memudar di selimuti kabut-kabut hitam.
Hitam yang tak tau kapan dan di mana ujungnya?.

Mengharuskan Kita berdiam diri.
Ada sebagian yang di isolasi.
Kampung-kampung yang dulu ramai.
Kini sepi, sepi ... bagai tak berpenghuni.
Sejak kabut itu, sejak kabut hitam itu.
Mulai menyelimuti cakrawala Nusantara.

Kasian duhai kasian!
Pak Tani tak bisa lagi bercocok tanam.
Nelayan hanya menyandarkan prahu-prahu mereka.
Saudagar pemutar roda ekonomi.
Kini gerak langkah mereka di batasi.
Mau makan apa!. Mau minum apa!.

Oh Sang Penguasa Jagat, segeralah ...
Segeralah Engkau tiup kabut-kabut hitam itu, untuk enyah ...
Enyah dari Bumi Nusantara.
Agar mentari bisa bersinar cerah, fajar bisa menyingsing kembali.
Yang membawa pengharapan baru.
Untuk kita, engkau dan kamu!, di sepanjang waktu.


Pandemi Covid-19: Timika, 11 Mei 2020
Puisi berjudul Kabut Hitam

Berlangganan update artikel terbaru via email:

6 Responses to "Kabut Hitam"

Jika ada yang Ingin Anda Tanyakan Terkait Artikel di atas Silahkan Bertanya Melalui Kolom Komentar Berikut ini!, dengan Ketentuan :

1. Berkomentarlah dengan Sopan (No Spam, Sara dan Rasis).
2. Komentar di Moderasi, bila berkomentar tidak sesuai dengan kebijakan Blogger maka tidak di terbitkan!.
3. Centang kotak Notify Me / Beri Tahu Saya untuk mendapatkan notifikasi komentar.
4. Happy Blogging 🙂.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel