Jejak Sang Profesor Cilik

Seorang bocah yang selalu mendapat bullying dari teman - temannya yang berusaha tegar menghadapi hidup. Cerpen, Novel, Karya Sastra
Pada umumnya gelar seorang profesor itu di peroleh setelah menyelesaikan studi S3, atau seseorang yang sudah melakukan penelitian di bidang IT, tapi bocah ini mendapat gelar profesor sejak kelas 2 SD wah. Seandainya Rekor Muri tau pasti suda masuk rekor.

Sayang jaman dulu Belum begitu banyak wartawan. Tipi aja masih yang item putih, makanya nggak msuk rekor muri, woles aja lah haha. Balik pada cerita saya. Pada suatu hari di sebuah desa kecil yang hijau nan rimbun penuh dedaunan yang segar - segar. (Sehijau & Segar apa rif, kira makanan Sapi hijau & segar) Hiduplah seorang Bocah Kelas 2 SD yang ketika di suruh nulis gurunya, selalu ngeles dan nulis sembarang:

  • Ibu Guru: Hae Nak ayo di tulis yang di papan itu, Biar pinter?
  • Bocah: ya ibu, sudah selesai nie !
  • Ibu Guru: Cepet Amat nulisnya nak!. Coba lihat tulisannya? (dalam ati, “nie bocah turunan betmen kali ya kok nulisnya cepet amat”,) kwkekwke
  • Bocah: Nie Ibu Guru!
  • Ibu Guru: Iiin … nie tulisanmu Nak! (Kaget dalam hati) Kamu tulis Sembarang ya??? (Sambil liat tulisanya, ibu guru ini terheran - heran kenapa yang di tulis ini bocah, berbeda dengan yang di papan).
  • Bocah: Diam Seribu bahasa (di dalam hatinya ingin nagis dan takut)
  • Ibu Guru: Nanti saya bilang sama orang tuamu yaaa, kalau kamu di sekolah nulisnya sembarang!!!

Tibalah waktu penerimaan Raport cawu 1 dimulai, (Jaman dulu masih menggunakan cawu atau caturwulan) sekaligus penggumuman libur sekolah dan ternyata ini bocah nilainya banyak yang merah dan nilai pancing (nilai 5 dan 6). Orang tua pun kecewa dan sedikit marah. Hae nak kamu ini lo tidak belajar to, kok nilaimu jelek gini, besok jangan banyak bermain!, belajar sana, biar seperti si anu … si itu … bla … bla … bla.

Waktu libur Cawu 1 pun berakhir, para siswa kembali sekolah. (Ibu Guru) anak - anak pada hari ini kita memasuki cawu 2, ibu guru mohon harus di tingkatkan ya belajarnya, ingat! jangan banyak bermain, biar nilainya bagus!. Hia ibu guru (Jawab siswa). Hari itu, suasana belajar di kelas sanggat hening, semua siswa lagi serius nulis di papan, tapi mata ibu guru ini, tertuju pada seorang siwa yang duduk di tengah, setiap diperhatikan kalau nulis, selalu maju ke depan.

  • Ibu Guru: Hae nak kenapa dudukmu pindah - pindah!!! sudah nulis?
  • Bocah: Sekali lagi diam seribu bahasa :)))
  • Ibu Guru: Coba liat tulisanmu???
  • Bocah: nie Ibu Guru :))) (Setelah di lihat ternyata masih sama, nulisanya sembarangan tidak sesuai dengan yang di papan)
  • Ibu Guru: Hae nak tulisan kamu sembarangan lagi ya seperti cawu I, awas nanti saya kasih tau Orang Tuamu itu.
  • Bocah: Hik…hik…hik menaggis (dalam hati bersedih karena takut di marahi Ortu)
  • Ibu Guru: Nie surat panggilan! Kasih Orang tua ya,
  • Bocah : Iya ibu guru. (dengan kepala tertunduk)

Hari itu pun tiba, ketika Ibu dari sang bocah ini datang ke sekolah, karena panggilan surat dari guru kemaren:

  • Orang Tua Bocah: Selamat Siang Ibu Guru? Saya di Panggil ke sekolah ya?
  • Ibu Guru: Ia ibu, kemaren itu saya nitip surat sama anak ibu, agar Ibu datang ke sekolah, ada masalah - masalah sedikit yang perlu di bicarakan tentang anak ibu.
  • Orang Tua Bocah: Memangnya Masalah Apa Ibu Guru?
  • Ibu Guru: Gini lo Bu… anak ibu ini tidak tau kenapa, setiap di suruh nulis di papan selalu maju dan tulis sembarang, mungkin matanya agak kabur kah, kalau liat tulisan? coba ibu priksakan ke Puskesmas, siapa tau kena penyakit min.
  • Orang Tua Bocah: Ya ibu guru nanti saya coba periksakan kalau ada kesempatan? Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya ibu guru?
  • Ibu Guru: Baik Ibu Silahkan!

Tibalah waktu hari Libur, Sang Ibu berbicara sama si bocah:

  • Orang Tua Bocah: Hae nak, ayo ke Puskesmas untuk periksa mata, katanya ibu guru, kalau kamu nulis di papan selalu maju ke depan ya?
  • Bocah: Ia Mak, sebenarnya saya mau ngomong dari dulu, tapi saya takut mamak marah, saya itu kalau nulis di papan tidak kelihatan, lihatnya itu, cuma seperti coret - coret saja, makanya saya selalu tulis sembarang mak.
  • Orang Tua Bocah: Mungkin benar dugaan ibu gurumu, kamu kena Min.

Setelah di periksakan ke Puskesmas, ternyata dugaan ibu guru pun benar, bocah nie terkena min dan sudah hampir parah, waktu itu yang mata kiri, Min 6 dan kanan Min 3 ahirnya di putukan pakai kaca mata.

Jadilah Sosok bocah yang baru, kemaren yang agak kabur - kabur melihat, sekarang menjadi terang - benerang, dan tambah gaya karena pake kaca mata, seperti berada di dunia baru bagi dia.

Tibalah waktu masuk sekolah, dengan kaca mata baru, si bocah ini berjalan memasuki ruang kelas, prok… prok… prok… suara sepatunya, semua mata tertuju pada bocah ini.

  • Teman - Teman Bocah: Hae kaca mata baru ya, mata kamu buta kah, tidak bisa lihat, kok kecil - kecil pake kaca mata? (Terus dan terus di bully si bocah nie oleh teman - temannya,)
  • Bocah: Terdiam malu, (Sesekali bilang) Ia saya kena penyakit Min?
  • Teman - Teman Bocah: Kalau Begitu mulai sekarang, kamu saya pangil “PROFESOR”, karena masih kecil udah pake kaca mata.

Sejak saat itu si bocah mempunyai panggilan baru yaitu “PROFESOR”, walaupun selalu di bully oleh teman - temannya, gara - gara pakai kaca mata, tapi sisi baiknya Si Bocah ini bisa melihat tulisan dengan jelas di papan.

Semenjak memakai kaca mata peningkatan prestasi bocah nie semakin baik, dulu yang tidak pernah dapat rangking, sekarang mulai dapat, karena yang di ajarkan Guru di tulis dan di fahami dengan baik.

Sekarang si bocah itu sudah lulus kuliah dan menjadi guru, masih mendapat panggilan yang sama “PROFESOR”, dari teman - teman akrapnya :). Ya … si bocah itu ternyata adalah “AKU”. Si Penulis ini kwkekwkekwkek.

Rasanya ingin tertawa + menangis kalau ingat jaman kecil. “Trimakasih Ibu Guru HANIK yang mengingatkan ORTU untuk memeriksakan saya ke Puskesmas”, berkat jasa anda saya bisa menjadi seperti ini dan mendapat panggilan “PROFESOR”, walau belum menempuh Studi S3, semoga suatu saat nanti bisa menjadi “PROFESOR”, beneran bukan Abal - abal hehe. Alfatehah untuk beliau (Ibu Guru Hanik) katanya sudah Almarhum sekarang.

Pesan - Pesan :

“Buat semua Orang Tua wajib melihat perkembangan anaknya dari dini, apakah ada kelainan - kelainan pada anak, mungkin terkena Min, Silinder, Katarak, atau penyakit berbahaya lain yang dapat merugikan perkembangan anak, jangan seperti saya sudah parah baru ketahuan kalau kena min, waktu kecil”.

Sekian Terimakasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

6 Responses to "Jejak Sang Profesor Cilik"

  1. Owalah, ternyata anak itu yg punya blog ini. Cerita nya bagus gan, sesuai pengalaman pribadi.

    ReplyDelete
  2. Ya ampun mas kelas 2 SD udah minu 6 dan 3,,, saya ga kebayang itu gimana kalau mau ngeliat, susah bener.

    ternyata si pemilikk blog, dari professor jadi guru sekarng, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu lah, klo pake kcamata normal, mkin pengaruh kurang makan sayur kali ya, memang waktu kecil ndak doyan makan sayur ane,

      Trims uda berkunjung sob ♡

      Delete
  3. Wk wk.. Ternyata profesornya sampean yo mas... Syukuri aja.. Sapa tau kesampean jd profesor beneran... Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe hia mbak, Amin juga :)

      Hanya ingin berbagi pengalaman masa kecil, untuk pelajaran khususnya buat ibu" muda agar lebih jeli memperhatikan perkembangan anaknya :)

      Delete

Jika ada yang Ingin Anda Tanyakan Terkait Artikel di atas Silahkan Bertanya Melalui Kolom Komentar Berikut ini!, dengan Ketentuan :

1. Berkomentarlah dengan Sopan (No Spam, Sara dan Rasis).
2. Komentar di Moderasi, bila berkomentar tidak sesuai dengan kebijakan Blogger maka tidak di terbitkan!.
3. Centang kotak Notify Me / Beri Tahu Saya untuk mendapatkan notifikasi komentar.
4. Happy Blogging 🙂.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel